Temulawak Singkirkan Penyakit Lever


Hati merupakan salah satu organ yang memiliki fungsi beragam serta berperan penting dalam beberapa proses kerja tubuh. Oleh karena itu, kesehatannya harus dijaga agar terhindar dari penyakit lever.


Konsultan herbal Ruhanto menjelaskan, ada beberapa gejala penting yang menandakan turunnya kesehatan hati. Gejala yang paling sering ditemui adalah kondisi tubuh yang mudah lelah. Seperti diketahui, salah satu fungsi hati ada memproduksi protein. Jika hati tidak berfungsi dengan baik, tubuh akan kekurangan nutrisi sehingga menyebabkan kurangnya energi.

Ujung-ujungnya tubuh akan lelah walaupun tidak terlalu banyak beraktivitas. Nah, untuk menghindari hal itu, temulawak bisa menjadi solusinya. Temulawak telah lama digunakan oleh nenek moyang sebagai tanaman obat.

“Khasiat dan kegunaan tumbuhan ini telah diakui secara luas oleh masyarakat yaitu menjaga kesehatan fungsi hati,” jelasnya saat ditemui Harian Jogja, di tokonya di Karangbendo CT III/1, Depok, Sleman, belum lama ini.

Tumbuhan yang memiliki nama latin Curcuma Xanthorhiza L ini adalah tanaman obat yang tergolong dalam suku Zingiberaceae. Aroma dan warna khas rimpangnya berbau tajam, daging buahnya berwarna kekuning-kuningan.

Tanaman ini dapat tumbuh hingga setinggi dua meter, memiliki bunga berwarna kuning. Temulawak dapat berbunga terus-menerus sepanjang tahun secara bergantian yang keluar dari rimpangnya. Rimpang induknya dapat memiliki tiga hingga empat buah rimpang.

Warna kulit rimpangnya berwarna cokelat kemerahan atau kuning tua, sedangkan warna dagingnya kuning. Rimpang temulawak terbentuk di dalam tanah pada kedalaman sekitar 17 sentimeter.

Rimpang temulawak mengandung senyawa yang bermanfaat bagi hati. Senyawa tersebut memiliki efek farmakologi yaitu hepatoprotektor yang bermanfaat mencegah penyakit lever.

Tak heran jika saat ini temulawak banyak digunakan untuk pengobatan penyakit hati, seperti hepatitis. Selain itu, temulawak juga dapat merangsang sel hati membuat zat empedu, melindungi sel hati, dan menurunkan kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Tlutamic Pyruvic Transaminase (SGPT).

Senyawa itu juga mencegah pembentukan batu empedu dan radang empedu. Kandungan lain seperti minyak asiri yang terkandung dalam temulawak juga berkhasiat sebagai penghilang rasa sakit dan penurun demam.

Agar bisa menjadi obat lever, temulawak sebaiknya diolah menjadi minuman. Gunakan rimpang segar atau yang telah dikeringkan, selanjutnya rebus dengan air hingga dan sisakan setengahnya. Lalu saring dan airnya diminum selagi hangat. Tak ada salahnya juga mencoba minuman instan alami temulawak produk AlfaVita yang terbuat dari rimpang herbal temulawak.

Cara membuat minuman instan ini cukup mudah, larutkan satu sachet dengan air hangat, selanjutnya aduk dan siap untuk diminum. Minuman herbal ini tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi tubuh dan aman dikonsumsi setiap hari.

“Untuk menjaga kesehatan hati, perbanyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin C dan antioksidan. Selain itu, hindari makanan yang terlalu berminyak dan berlemak karena akan menyebabkan hati bekerja terlalu keras,” pungkasnya. (ali)

Kedawung dan Manfaatnya Sebagai Pengawet Pangan


Pada beberapa dekade ini, masyarakat Indonesia telah dihadapkan oleh kebusukan atau penurunan mutu bahan pangan terutama bahan pangan yang memiliki kandungan air den nutrisi yang cukup tinggi. Pengawet pangan digunakan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan kimiawi dan biologi pangan. Pengawet untuk mencegah kerusakan biologi yang disebabkan mikroba disebut antimikroba. Penelitian-penelitian antimikroba telah banyak dilakukan terutama dari berbagai jenis tanaman rempah-rempah.

Namun para ilmuwan terus berusaha untuk mencari sumber antimikroba baru, terutama yang mudah tumbuh di Indonesia. Tumbuhan yang digunakan untuk obat tradisional dapat dijadikan alternatif pencarian zat antimikroba, karena pada umumnya memiliki senyawa aktif yang sangat berperan dalam bidang kesehatan. Kedawung (Parka roxburghii G. Don) merupakan jenis tumbuhan obat yang langka, yang meskipun telah lama dimanfaatkan khasiat bijinya tetapi masih belum banyak diteliti aspek-aspek ekologi, biologi, serta aspek-aspek lainnya.

Daun kedawung dimanfaatkan sebagai obat infeksi kulit dengan cara menempelkannya pada bagian yang sakit, selain itu juga dimanfaatkan untuk obat diare, eksim dan cacingan. Daun yang direndam dalam air dapat menyembuhkan infeksi pada mata. Kulit batang dapat digunakan sebagai obat kumur, obat disentri dan diare. Akar dan biji kedawung yang telah difermentasi terutama dimanfaatkan sebagai obat disentri. Biji yang direndam dalam air dapat dgunakan sebagai obat sakit telinga. Selain itu biji juga berguna sehagai obat infeksi kulit, cacingan dan sakit perut.

Biji kedawung termasuk sepuluh besar bahan yang paling banyak digunakan dalam pembuatan jamu di Indonesia. Pada tahun 2000, permintaan kedawung diperkirakan mencapai 180.000 kg. Permintaan ini masih terbatas pada bijinya sedangkan bagian lain dari kedawung masih sedkit dimanfaatkan, terbatas pada kayu batangnya. Beberapa penelitian telah dilakukan dengan tujuan menambah informasi ilmiah mengenai potensi antimikroba kedawung terutama kemungkinan aplikasinya di bidang pangan dan pengobatan. Aktivitas antimikroba kedawung diujikan terhadap bakteri patogen yaitu bakteri Gram negatif Escherichia coli dan Vibrio cholerae, serta bakteri Gram positif Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus.

Dari penelitian ini diketahui bahwa kulit batang kedawung memiliki aktivitas antimikroba yang paling tinggi dibandingkan daun dan kulit akar, dengan perbandingan 1 : 2 terhadap air. Aktivitas antimikroba ekstrak kulit batang tidak rusak oleh pemanasan pada saat sterilisasi. Kulit batang kedawung dengan konsentrasi 10,70 mg/ml (5%) telah menghambat pertumbuhan S. aureus dan V. cholerae. Ekstrak kulit batang dengan konsentrasi 21,40 mg/ml (10%) bersifat bakteristatik (hanya menghambat pertumbuhan bakteri).