Kedawung dan Manfaatnya Sebagai Pengawet Pangan




Pada beberapa dekade ini, masyarakat Indonesia telah dihadapkan oleh kebusukan atau penurunan mutu bahan pangan terutama bahan pangan yang memiliki kandungan air den nutrisi yang cukup tinggi. Pengawet pangan digunakan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan kimiawi dan biologi pangan. Pengawet untuk mencegah kerusakan biologi yang disebabkan mikroba disebut antimikroba. Penelitian-penelitian antimikroba telah banyak dilakukan terutama dari berbagai jenis tanaman rempah-rempah.

Namun para ilmuwan terus berusaha untuk mencari sumber antimikroba baru, terutama yang mudah tumbuh di Indonesia. Tumbuhan yang digunakan untuk obat tradisional dapat dijadikan alternatif pencarian zat antimikroba, karena pada umumnya memiliki senyawa aktif yang sangat berperan dalam bidang kesehatan. Kedawung (Parka roxburghii G. Don) merupakan jenis tumbuhan obat yang langka, yang meskipun telah lama dimanfaatkan khasiat bijinya tetapi masih belum banyak diteliti aspek-aspek ekologi, biologi, serta aspek-aspek lainnya.

Daun kedawung dimanfaatkan sebagai obat infeksi kulit dengan cara menempelkannya pada bagian yang sakit, selain itu juga dimanfaatkan untuk obat diare, eksim dan cacingan. Daun yang direndam dalam air dapat menyembuhkan infeksi pada mata. Kulit batang dapat digunakan sebagai obat kumur, obat disentri dan diare. Akar dan biji kedawung yang telah difermentasi terutama dimanfaatkan sebagai obat disentri. Biji yang direndam dalam air dapat dgunakan sebagai obat sakit telinga. Selain itu biji juga berguna sehagai obat infeksi kulit, cacingan dan sakit perut.

Biji kedawung termasuk sepuluh besar bahan yang paling banyak digunakan dalam pembuatan jamu di Indonesia. Pada tahun 2000, permintaan kedawung diperkirakan mencapai 180.000 kg. Permintaan ini masih terbatas pada bijinya sedangkan bagian lain dari kedawung masih sedkit dimanfaatkan, terbatas pada kayu batangnya. Beberapa penelitian telah dilakukan dengan tujuan menambah informasi ilmiah mengenai potensi antimikroba kedawung terutama kemungkinan aplikasinya di bidang pangan dan pengobatan. Aktivitas antimikroba kedawung diujikan terhadap bakteri patogen yaitu bakteri Gram negatif Escherichia coli dan Vibrio cholerae, serta bakteri Gram positif Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus.

Dari penelitian ini diketahui bahwa kulit batang kedawung memiliki aktivitas antimikroba yang paling tinggi dibandingkan daun dan kulit akar, dengan perbandingan 1 : 2 terhadap air. Aktivitas antimikroba ekstrak kulit batang tidak rusak oleh pemanasan pada saat sterilisasi. Kulit batang kedawung dengan konsentrasi 10,70 mg/ml (5%) telah menghambat pertumbuhan S. aureus dan V. cholerae. Ekstrak kulit batang dengan konsentrasi 21,40 mg/ml (10%) bersifat bakteristatik (hanya menghambat pertumbuhan bakteri).



0 komentar:

Posting Komentar